#KABURAJADULU DAN KRISIS KERJA LULUSAN MUDA: DI MANA PERAN NEGARA?

#KaburAjaDulu: Sebuah Jeritan, Bukan Candaan

Tanggal 2 Mei 2025 seharusnya menjadi momen reflektif dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional. Namun, linimasa media sosial justru dipenuhi tagar menyedihkan: #kaburajadulu. Ironi ini mencerminkan realitas getir—banyak anak muda yang tak lagi melihat sekolah dan kampus sebagai tempat mereka tumbuh dan bermakna, tapi justru sebagai beban.

Sebagai seorang ibu, saya mendengar sendiri dari anak muda lulusan SMK, “Bu, sekolah itu capek. Kita belajar tapi nggak nyambung sama hidup.” Kalimat itu sederhana, tapi menghantam. Bukankah seharusnya sekolah menjadi rumah belajar, bukan tempat yang ingin ditinggalkan?

Sistem Pendidikan Kita: Terfragmentasi dan Tidak Sinkron

Kini, struktur pendidikan Indonesia terbagi ke dalam tiga kementerian. Alih-alih mempercepat reformasi, fragmentasi ini menciptakan kebingungan dan tumpang tindih. Kurikulum berganti tanpa arah, pelatihan guru tak menjangkau seluruh daerah, dan orientasi vokasi sering tak nyambung dengan dunia kerja.

Teori Pembangunan Sosial Goulet menyatakan bahwa pembangunan bukan hanya soal teknokrasi, tapi pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Maka, sebesar apapun anggaran Rp708 triliun itu, jika tidak menjawab kebutuhan anak didik secara nyata—akses, relevansi, dan keberdayaan—maka pendidikan akan menjadi beban, bukan jalan keluar.

Ketika Negara Gagal Menyediakan Ruang Kerja yang Layak

Fakta BPS 2023 mencatat: tingkat pengangguran terbuka justru lebih tinggi pada lulusan perguruan tinggi. Ini menegaskan kritik dari Human Capital Theory (Becker) bahwa pendidikan yang tidak didukung oleh ketersediaan lapangan kerja akan menciptakan lulusan yang overqualified namun underemployed.

Amartya Sen, dalam pendekatan Capability Approach, menekankan pentingnya pendidikan sebagai jalan memperluas kebebasan dan pilihan hidup. Tapi tanpa dukungan negara untuk menciptakan ekosistem kerja yang inklusif dan produktif, pendidikan hanyalah janji kosong. Maka ketika siswa merasa tidak punya pilihan selain “kabur”, itu bukan sekadar frustrasi—itu bentuk kegagalan negara dalam menjamin hak dasar warganya.

Mengapa Generasi Muda Menarik Diri dari Institusi Pendidikan?

Literatur Threadgold (2021) menyebutkan istilah “youth political disengagement”—anak muda menarik diri dari sistem karena mereka merasa tidak dimengerti. Mereka tidak antusias bukan karena malas, tapi karena kehilangan koneksi antara apa yang dipelajari dan masa depan yang mereka impikan.

Kritik terhadap Pendekatan Tekno-Birokratis

Alih-alih hadir sebagai ruang tumbuh, kampus kini diposisikan sebagai “pabrik kerja”. Pendidikan menjadi angka dan proyek, bukan tempat pembentukan makna. Seperti kritik Threadgold tentang “technocratic paternalism”, negara menciptakan narasi masa depan yang seragam, padahal setiap anak muda punya jalan unik.

Inspirasi Global: Pendidikan yang Manusiawi Bisa Terwujud

  • Finlandia: Tanpa Ujian Nasional, tapi skor PISA tinggi.
  • Jerman: Sistem dual track (kelas + magang) yang membuat lulusan siap kerja.
  • Singapura: Menghapus ranking dan fokus pada evaluasi kualitatif.

Ketiganya membuktikan: pendidikan bisa berkualitas tanpa kehilangan jiwa.


Langkah Strategis untuk Pendidikan yang Memanusiakan

  1. Kurikulum Kontekstual dan Inklusif
    • Pendidikan harus dimulai dari konteks kehidupan anak, bukan hanya silabus pusat.
  2. Desentralisasi Akademik
    • Berikan ruang pada kampus dan sekolah daerah untuk mengembangkan model belajar berbasis lokal.
  3. Triple Helix yang Partisipatif
    • Sinergi pemerintah-kampus-industri harus berbasis kebutuhan nyata, bukan formalitas.
  4. Pendidikan sebagai Ruang Hidup
    • Bangun ruang belajar yang inklusif, kreatif, dan membebaskan.

Akhir Kata: Harapan Seorang Ibu dan Akademisi

Saya menulis ini bukan sebagai pengamat, tapi sebagai ibu. Saya ingin anak saya mencintai tanah airnya, karena dia merasa dimanusiakan oleh sistem pendidikannya. Bukan hanya cerdas, tapi juga berdaya.

Semoga suatu hari nanti, kita tak lagi melihat tagar #kaburajadulu, tapi justru #betahbelajar—#kerjabuatIndonesi karena sekolah dan kampus adalah tempat yang bermakna, bukan ruang nirtujuan.

Oleh: Amalia Susilowati Prabowo, S.Str., M.M.
Kandidat Doktor Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan – FISIPOL UGM

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *